April 3, 2025

Ulak Kemang – Melestarikan Tradisi dan Budaya Lokal di Pampangan, Sumatera Selatan

Ulak Kemang – Melestarikan Tradisi dan Budaya Lokal di Pampangan, Sumatera Selatan

Palembang: Dari Pusat Kerajaan Sriwijaya

Palembang: Dari Pusat Kerajaan Sriwijaya

Palembang, ibu kota Provinsi Sumatra Selatan, memiliki sejarah panjang dan penuh warna. Kota ini bukan hanya dikenal sebagai kota pempek, tetapi juga sebagai salah satu kota tertua di Indonesia yang pernah menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Dari kejayaan masa Kerajaan Sriwijaya, transformasi menjadi Kesultanan Palembang Darussalam, hingga berkembang sebagai kota metropolitan modern, Palembang menyimpan warisan sejarah dan budaya yang sangat kaya.

Palembang: Dari Pusat Kerajaan Sriwijaya

Sejarah gemilang Palembang bermula pada masa Kerajaan Sriwijaya yang berdiri sekitar abad ke-7 Masehi. Pada masa itu, Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang sangat berpengaruh di Asia Tenggara. Pusat kekuasaan Sriwijaya diyakini berada di sekitar wilayah Palembang saat ini. Letaknya yang strategis di tepi Sungai Musi menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan internasional.

Para pedagang dari India, Tiongkok, dan Timur Tengah datang untuk berdagang sekaligus menyebarkan pengaruh budaya dan agama. Agama Buddha Mahayana berkembang pesat pada masa ini, terbukti dari peninggalan sejarah seperti Prasasti Kedukan Bukit dan catatan perjalanan dari pendeta Tiongkok bernama I-Tsing. Ia bahkan menyebut Palembang sebagai pusat studi agama Buddha terkemuka di wilayah timur.

Perkembangan Menuju Era Islam: Kesultanan Palembang Darussalam

Seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya dan masuknya Islam ke Nusantara, Palembang memasuki babak sejarah baru. Sekitar abad ke-17, berdirilah Kesultanan Palembang Darussalam yang menandai perubahan besar dalam struktur sosial, budaya, dan agama masyarakat setempat. Kesultanan ini menjadi pusat pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, namun tetap mempertahankan identitas lokal yang kuat.

Salah satu peninggalan penting dari era ini adalah Masjid Agung Palembang, yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1748. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan juga simbol kebesaran Kesultanan Palembang. Pada masa itu, Palembang juga mengalami perkembangan dalam bidang arsitektur, sastra Melayu, dan sistem pemerintahan Islam.

Namun, Kesultanan Palembang tidak luput dari konflik dengan pihak luar, terutama Belanda. Seiring berkembangnya kepentingan kolonial di wilayah Sumatra, Belanda berusaha menguasai Palembang. Pada tahun 1823, setelah serangkaian peperangan dan tekanan politik, Kesultanan Palembang secara resmi dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Masa Penjajahan dan Perubahan Sosial
Selama masa penjajahan Belanda, Palembang mengalami perubahan signifikan. Infrastruktur mulai dibangun, termasuk jembatan, jalan, dan sistem administrasi modern. Sungai Musi tetap menjadi jalur penting bagi aktivitas perdagangan, baik lokal maupun internasional.

Namun, kehidupan rakyat tidak lepas dari penindasan. Eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja oleh kolonial menimbulkan penderitaan yang mendalam. Meskipun demikian, semangat perlawanan terus tumbuh di kalangan masyarakat. Sejumlah tokoh pergerakan nasional berasal dari wilayah ini, termasuk Sultan Mahmud Badaruddin II yang kemudian diabadikan sebagai nama bandara di kota Palembang.

Palembang Pasca Kemerdekaan: Menuju Kota Modern
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Palembang terus berkembang dan bertransformasi menjadi kota besar yang maju. Kota ini kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan budaya di Pulau Sumatra.

Berbagai infrastruktur modern telah dibangun, termasuk Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota, Light Rail Transit (LRT) pertama di Indonesia, dan fasilitas olahraga megah yang digunakan untuk ajang Asian Games 2018. Tidak hanya itu, sektor pariwisata juga berkembang pesat dengan daya tarik wisata sejarah, kuliner, dan budaya yang khas.

Palembang juga dikenal sebagai kota multikultural, tempat berbagai etnis dan agama hidup berdampingan. Hal ini menciptakan atmosfer yang harmonis dan memperkaya identitas kota.

Penutup
Palembang bukanlah sekadar kota tua di tepi Sungai Musi. Ia adalah saksi hidup perjalanan sejarah Indonesia dari masa kerajaan kuno hingga era modern. Kejayaan Sriwijaya, warisan Kesultanan Palembang Darussalam, perjuangan melawan kolonialisme, hingga kemajuan sebagai kota metropolitan—semua berpadu dalam satu kisah panjang yang luar biasa.

Memahami sejarah Palembang adalah cara untuk menghargai peran penting kota ini dalam membentuk peradaban Nusantara. Kini, tugas kita adalah menjaga, melestarikan, dan meneruskan warisan tersebut ke generasi berikutnya dengan semangat yang sama seperti para leluhur kita.

Share: Facebook Twitter Linkedin

Comments are closed.